IndeksFAQPendaftaranLogin

Share | 
 

 [Solar] Fukushima Akira

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Fukushima Akira

avatar


PostSubyek: [Solar] Fukushima Akira   Mon Oct 04, 2010 5:16 pm

Name: Fukushima Akira

Gender: female

Class: 1

Birthday : Fukuoka, 1 Febuari 1995

Age: 15 tahun

Height/weight: 160/41

Character Description : rambut hitam, mata besar dengan warna iris cokelat gelap, kulit putih asia.

Family :
  • Fukushima Takanori (ayah)
  • Fukushima Ayako (ibu)
  • Fukushima Rina (adik kembar)



Personality: sedikit feminim, terkadang cara bicaranya sedikit menyindir, murah senyum, periang.

Weakness: pagi hari selalu membuarnya sakit kepala | sulit konsentrasi | mudah jatuh cinta pada bishounen

Strength : pandai bermain drum, jago atletik, jago masak.

Visualisation: Rina Suzuki (Scandal)




Background Story:
Timeline: 1 April 2010. 3 p.m
Place: Fukuoka – Fukushima Residence


Kinareta seifuku no eri ga
Itsumo yori sukoshi kyukutsu nanda
Saigo no chaimu ni narihibite
Kono rouka mo omoide ni kawatteku


Sebuah lagu bertempo sedang mengalun memenuhi ruangan bawah tanah milik keluarga Fukushima untuk sang sulung bereksperimen dengan hobinya. Sudah menjadi jadwal keseharian bagi sang dara sulung bersama beberapa teman sekelasnya menghabiskan sore hari di ruangan tersebut. Entah sudah berapa tahun dirinya tertarik dengan kegiatan satu ini, menulis lagu, bermanin drum, dan membentuk sebuah band yang berisikan empat dara—termasuk dirinya.


Sakura mainichiru kisetsu kimi to no omoide
chira chira to mau yo aozora no shita de
kimi no saigo no egao ima no nokoru
mada iitakunai yo SAYONARA


Perpaduan melodi gitar dan bass, disatukan dengan tempo tabuhan drum sang Fukushima sulung, hingga terbentuk harmonisasi di dalamnya. Ditambah suara Mai yang sangat khas membuatnya semangat, hingga—

HELLO GOODBYE
HELLO GOODBYE BYE BYE . . . .


—menimbulkan suara aneh diantara harmonisasi yang ada. Pluk! Sesuatu mengenai kepala Mai dan membuatnya berhenti menyanyi dan diikuti dengan hentinya alunan lagu bernada cendaka tersebut. Mai menatap kesal pada sang pembuat onar di belakang drum set, mengambil benda yang mental ke arah kepalanya, dan menghampiri dara lainnya.

“Apa maksudnya ini?” sambil menunjukan sepotong kayu yang tadinya bagian dari stik drum milik sang drummer, “tidak bisa kah kau bermain lebih. . . wanita?”

Hening. Kemudian berganti tawa canda dalam hitungan detik. Tidak ada yang mengerti cara mereka bercanda, tidak ada yang mengerti cara mereka berinteraksi, karena mereka selalu menganggap diri mereka spesial—dimana orang lain menjuluki mereka aneh. Tapi siapa peduli? Mereka hanya ingin mengekspresikan diri mereka, dan ini lah hasilnya, berbeda, dan selama mereka menikmatinya, mereka akan tetap pada jalur yang mereka ambil saat ini.

“Gomen ne, Mai,” ujar sang drummer pada akhirnya, “aku terlalu bersemangat,” ditambahkannya dengan nada sedikit malu-malu, “saat bermain, aku tidak tahu bagaimana caranya mengontrol seluruh energi yang ku punya,” lanjutnya dan diakhiri dengan senyuman khas sang dara.

“Dai-jou-bu, Aki-chan,” timpal Mai, “ah, ya, aku dengar kau mendaftar di sekolah berasrama? Bagiamana? Apakah berhasil?” kini melancarkan tanya kepada drummer mereka, tidak sabar menunggu jawaban.

Yang lain pun menunggu dalam diam, sedangkan sang pemberi jawaban hanya mampu menatap satu per satu teman sekelasnya semasa SMP. Ia telah diberitahu oleh okaasama dirinya mendapat surat panggilan dari sekolah bersangkutan, ada sedikit rasa senang dirinya diterima di sana. Tetapi, di lain sisi, dirinya akan berpisah dengan teman-temannya. Dan bagaimana dirinya bisa melanjutkan sekolahnya tanpa mereka. Dengan sukses senyum khas milik sang dara lenyap, digantikan isakan tangis harus mengucapkan perpisahan.

“Nakanaide, Aki,” ujar sang bassis, “kami akan selalu ada di sampingmu. Kalau kau bosan, kau bisa menghubungi kami.”

“Kami pasti akan datang menemui mu, secepat kilat,” tambah Mai, “kami ikut senang kau diterima. Aku dengar seleksinya cukup ketat. Jaga kesehatanmu, ya.”

“Mai!” pekik Akira membuat sang empunya namanya mengerjap, “kau bukan kaasan, kau sahabtku!” kontan ruangan tersebut dipenuhi dengan tawa dan canda para gadis. Dalam hati dengan sedikit rasa berat, Akira melantunkan lirik terakhir Sakura Godbye, dan menyambut sekolah barunya, Renraku Gakuen.

Hello goodbye bye bye~
song (c) Scandal - Sakura Goodbye
Kembali Ke Atas Go down
 
[Solar] Fukushima Akira
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Natural Solar and Planetary Phenomena
» Solar Energy Engineering, Second Edition: Processes and Systems
» Pokemon solar light and lunar dark
» Warboss on a Bike
» Artistic Interpretation

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: Registration :: Character Registration-
Navigasi: